Teks Kritik dan Esai
Nama : Siti Luthfiyah Zalfarana
Kelas : XII IPA 10
No. Absen : 32
• Teks Kritik
Ketidakkonsistenan Sikap Tari dan Sunarto dalam Cerpen “Perempuan dari Masa Lalu” Karya Sirikit Syah
“Perempuan dari Masa Lalu” merupakan cerpen yang ditulis oleh Sirikit Syah pada 16 November 1996. Sirikit Syah merupakan penulis asal Surabaya, Jawa Timur, yang lahir pada tahun 1960. Namanya dikenal melalui karya-karya sastranya yang berupa esia, puisi, dan cerpen. Karya-karya tersebut banyak dipublikasikan di berbagai media massa.
Cerpen “Perempuan dari Masa” lalu bercerita tentang laki-laki bernama Sunarto yang bertemu dengan perempuan dari masa lalunya, yaitu Tari. Dahulu, setamat SMP, Sunarto nekat meninggalkan desanya dan mengembara ke kota. Ia kemudian sampai di Semarang. Ia bekerja membantu sebuah keluarga di sana. Karena prestasi belajarnya yang membanggakan, keluarga tersebut akhirnya mengangkatnya sebagai anak. Akan tetapi, sebagai orang baru, tentu ada saja orang lama yang tidak menyukainya.
Lestari atau biasa dipanggil Tari merupakan anak kandung dari keluarga angkat Sunarto. Sikapnya tidak seperti anggota keluarga yang lain. Ia sering memarahi, memaki, dan menyuruh Sunarto dengan tidak sopan. Semenjak saat itu Sunarto membenci Lestari. Tiga puluh tahun berlalu, kini Sunarto bertemu dengan Lestari. Ia ditelepon oleh pihak rumah sakit yang mengabarkan bahwa ada seorang wanita yang jatuh dari lantai dua. Wanita itu tinggal sendirian ditinggal suaminya.
Di rumah tersebut yang ditemukan hanyalah alamat Sunarto. Sunarto bergegas menuju rumah sakit dan bertemu dengan perempuan itu. Kini Lestari meminta Sunarto untuk membawanya pulang ke rumah Sunarto karena Lestari sudah tidak memiliki keluarga lagi. Sunarto jelas menolak karena ia sudah beristri. Lestari meminta lagi dengan dalih sebenarnya ia sedari dulu mencintai Sunarto. Akhirnya, dengan perasaan iba Sunarto mau membawa Lestari pulang ke rumahnya.
Cerpen ini cukup menguras emosi. Peringai Lestari di sini cukup membuat geram pembaca. Akan tetapi, dari awal cerpen, Sirikit Syah kurang bisa menggambarkan cerita dengan detail. Alasan Sunarto meninggalkan desanya tidak diuraikan dengan jelas. Deskripsi keluarga angkat Sunarto juga tidak dijelaskan secara detail, hanya disebutkan sebuah keluarga di Semarang. Hal yang juga seharusnya diuraikan lebih dalam dari cerita pendek ini adalah sikap Lestari yang pada akhir cerita disebutkan bahwa ia mencintai Sunarto sejak Sunarto menjadi bagian dari keluarganya. Hal ini membuat pembaca bertanya-tanya dan berpekulasi akan sikap tokoh-tokohnya.
Pada bagian akhir cerpen, keputusan Sunarto yang akhirnya mau membawa pulang Lestari juga disayangkan. Di awal Sunarto sangat membenci Lestari, tetapi di akhir cerita, dengan kalimat manis rayu Lestari, Sunarto dengan mudah menuruti permintaan Lestari. Di sini terlihat sikap Tari dan Sunarto tidak konsisten.
Kekonsistenan sikap tokoh sebenarnya bukan sesuatu yang diatur dalam penulisan cerpen. Akan tetapi, kekonsistenan sikap tokoh dapat mempengaruhi jalan cerita dan pembaca cerpen itu sendiri. Ketidakkonsistenan tokoh dapat membuat pembaca semakin tertarik atau bahkan sebaliknya. Cerpen yang baik harus bisa memikirkan apakah tindakan penulis untuk mengubah sikap tokoh adalah hal yang tepat atau tidak.
• Teks Esai
Childfree, Ancaman Demografi Indonesia?
Akhir-akhir ini, istilah childfree mulai marak diperbincangkan di tengah masyarakat, apalagi setelah influencer, Gita Savitri membahas dan memutuskan untuk melakukan childfree bersama suaminya. Childfree merupakan sebuah topik yang sedang fenomenal dalam kultur masyarakat Indonesia yang lazimnya menjunjung tinggi sifat dan budaya luhur ketimuran (Blogunik, 2010).
Childfree adalah sebuah keputusan untuk tidak memiliki anak, baik itu anak kandung, anak tiri, maupun anak angkat. Penggunaan istilah Childfree untuk menyebut orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak mulai muncul di akhir abad 20, akan tetapi di Indonesia istilah ini mulai populer sekitar tahun 2018 sampai sekarang. Sejak saat itu, gaya hidup childfree atau pandangan pernikahan yang memutuskan tidak memiliki anak mengalami tren peningkatan khususnya pada generasi milenial di Indonesia (Hidayati & Dwi Hastuti, 2021).
Pandangan mengenai childfree banyak diyakini atau diikuti oleh masyarakat karena beberapa faktor. Menurut Mardiyan & Kustanti (2016), childfree ada dalam benak masyarakat karena ketakutan akan ketidakmampuan dalam mengasuh anak, fokus pada pencapaian karir masing-masing, dan sejumlah faktor lainnya yang dapat menyebabkan masalah-masalah baru dalam pernikahan sehingga ditakutkan dapat mengikis kepuasan pernikahan yang sedang dijalani. Kepuasan pernikahan dapat dilihat dari seberapa jauh pasangan menikah dan merasa tercukupi akan kebahagiaan lahir maupun batin. Ketakutan dan ketidakmampuan mengasuh anak disebabkan oleh keadaan sosial, ekonomi, dan budaya dari dalam diri pasangan maupun luar pasangan.
Pasangan merasa takut apabila ia memiliki anak, si anak tidak akan mendapatkan hak dan kebahagiaan yang semestinya. Daripada mengorbankan satu manusia karena kegagalan orang tua, lebih baik tidak memiliki anak. Fokus pada pencapaian karier masing-masing juga menjadi salah satu alasan yang banyak diakui menyebabkan pasangan memilih childfree. Setiap orang tentu memiliki tujuan hidup. Tujuan hidup yang belum terselesaikan, sementara seseorang harus menikah menjadi sebuah masalah. Oleh karena itu, memiliki anak ditakutkan akan menghambat pencapaian karier atau tujuan hidup.
Childfree di beberapa negara memang sudah bukan menjadi sesuatu yang tabu, misalnya di Korea Selatan dan Jepang. Banyak pasangan di Korea Selatan dan Jepang yang memilih tidak memiliki anak. Pasangan muda memilih untuk tidak memiliki anak disebabkan beban hidup yang besar, sulitnya memiliki hunian dengan harga yang terjangkau, dan pencapaian karier yang belum maksimal. Akibat childfree yang sudah membudaya di dua negara tersebut, saat ini Jepang dan Korea Selatan mengalami “krisis generasi muda” atau kelangkaan generasi usia produktif.
Dalam kurun waktu 60 tahun terakhir, Korea Selatan mengalami penurunan tingkat kelahiran dan saat ini Korea Selatan memiliki tingkat kelahiran terendah secara global. Hal ini terbukti dengan banyaknya sekolah yang kekurangan jumlah peserta didik. Seperti yang terjadi di Chung-Il High School, sebuah sekolah di Daejeon, Korea Selatan. Bangunan sekolah tersebut ditutup dan terbengkalai sejak tahun 2005. Terakhir kali sekolah tersebut meluluskan peserta didik pada tahun 2004. Karena kelangkaan tersebut, pemerintah Korea Selatan membuat sebuah kebijakan dengan memberikan insentif sebesar 23 juta rupiah kepada setiap pasangan yang mau memiliki anak.
Bila melihat Indonesia saat ini yang digadang-gadang akan mengalami bonus demografi, apakah nantinya apabila usia produktif memilih childfree akan mempengaruhi jumlah demografi Indonesia? Hal ini tentu menjadi sebuah pertanyaan yang menarik. Childfree memang tidak berdampak secara langsung terhadap keadaan demografi suatu wilayah. Akan tetapi dampaknya akan terasa 15-20 tahun setelahnya. Saat ini pun di berbagai daerah di Indonesia banyak sekolah yang ditutup atau digabung dengan sekolah lain karena kekurangan peserta didik.
Akan tetapi, hal ini juga perlu diteliti lebih dalam, mengingat angka kelahiran dini juga masih tinggi. Apabila edukasi seskual sudah masif dan masyarakat Indonesia memilih chidfree bukan tidak mungkin di masa depan Indonesia juga akan mengalami “krisis generasi muda”. Oleh karena itu, seharusnya pemerintah mulai melirik isu childfree dan mulai mengambil tindakan dini, seperti edukasi tentang seks yang perlu digalakkan, edukasi tentang dampak negatif dan positif childfree, dan memperhatikan bagaimana situasi dan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya generasi yang akan datang.
Childfree saat ini menjadi pandangan yang menarik dan sekaligus menjadi ancaman bagi demografi Indonesia. Keengganan pasangan untuk memiliki anak membuat masa depan generasi muda perlu dipertanyakan. Melihat beberapa negara yang sudah mengalami kelangkaan generasi produktif, seharusnya Indonesia dapat mengantisipasi fenomena tersebut agar nantinya tidak mengalami masalah-masalah lanjutan dari fenomena tersebut.

Teks kritik dan teks esai yang dibuat bagus 👍
BalasHapusTeks kritik dan esai nya sudah bagus dan sesuai dengan kaidah kebahasaan nya 👍🏻
BalasHapusdari kedua teks sudah bagus. keduanya memiliki ciri kebahasaan yang tepat, tema yang menarik, strukturnya sudah benar
BalasHapusTeks esai dan kritiknya sudah sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan, pembahasan yang dipaparankan pun menarik.
BalasHapusTeks esai dan kritik yang sudah dibuat sudah sesuai dengan struktur serta kaidah kebahasaannya
BalasHapusteks esai dan kritiknya sudah bagus sesuai kaidah kebahasaan sehingga mudah dipahami
BalasHapusTeks kritik dan esai yang dibuat menarik untuk dibaca, mudah dimengerti, kaidah kebahasaan dan strukturnya juga sudah tepat.
BalasHapusteks esai dan kritik yang dibuat sudah sesuai degan struktur dan kaidah kebahasaannya, topik yang diangkat pada esai menarik dan kritik sastranya cukup kritis👍
BalasHapusTeks kritik yang dibuat sudah bagus dan sesuai baik itu kaidah kebahasaannya ataupun strukturnya. Teks esai yang dibuat juga sesuai dan cukup menarik.
BalasHapus